Showing posts with label universitas multimedia nusantara. Show all posts
Jadi Penyiar Itu Asyik
October 18, 2013 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service
Trax FM berbagi cerita tentang serunya terjun ke dunia broadcasting khususnya radio dalam TraxWorkshopaholic.
Peserta workshop di Lecture
Hall Kamis (17/10) sore dibuat tertawa dengan humor segar ala Aldy dan
Dery, penyiar Morning Zone Trax FM. Mereka sebagai MC membuat suasana
menjadi hidup dan tidak membosankan dari awal workshop. Selain mereka, adapula tiga pembicara lain dari kru Trax yang sharing seputar kehidupan siaran; Joey (penyiar), Sawi (Produser), Didot (Program Director)
Sebagai salah satu penyiar, Joey lebih
menjelaskan mengenai apa sih sebenarnya esensi dari penyiar di kala
jaman sekarang ini sekian juta lagu sudah bisa didownload dengan mudah
dan didengarkan di mana saja. Informasi pun sudah bisa dicari di twitter
atau social media lainnya sehingga penyiar kalah cepat. “Job desk penyiar itu sekarang kurang lebih menjadi partner atau teman si pendengar secara personal. Kita dilatih supaya sengobrol
mungkin dengan orang, jadi teman dan sahabat yang baik, bisa menemani
waktu lagi kena macet, atau bisa bikin hari yang tadinya butek jadi happy,” jelas Joey.
Lalu bagaimana menjadi penyiar yang baik? Menurut Joey, industri broadcasting perlu orang-orang yang benar-benar memiliki passion untuk jadi penyiar radio, bukan hanya yang sekedar ingin menjadikan profesi radio announcer sebagai batu loncatan. “Radio perlu orang-orang yang enggak cukup puas dengan keseragaman misalnya dalam hal lagu. Kalau cuma puas dengan lagu-lagu yang secara rating bagus, industri ini enggak akan ke mana-mana,” tuturnya.
Hal paling penting yang perlu diingat
dan ditanamkan dalam diri penyiar ialah hendaknya selalu menjadi diri
sendiri, natural. “Teknik dan skill bisa dipelajari, knowledge bisa dicari, tapi kalau karakter cuma kita yang punya, sesuatu yang ada di dalam diri kita yang bisa digali dan dikembangkan. Enggak perlu berusaha untuk jadi orang lain. Mereka-mereka yang berhasil itu mereka yang jadi diri sendiri. Just be the best version of you,” ungkap Joey di akhir sesinya.
Dominique Sawi, produser Morning Zone,
turut membagikan pengalamannya selama tiga tahun menjadi produser
beberapa program Trax FM seperti Skul Desak, Kompak Kampus dan Zona
Cinta. “Produser di radio itu menyiapkan sesuatu untuk dipresent
oleh penyiar. Dia harus tau karakter dari penyiar yang berbeda-beda, ini
berkaitan dengan penulisan skrip. Kalau di Trax, produser juga
merangkap jadi reporter, meliput event-event dan live report,” tutur Sawi.
Serunya bekerja di broadcasting ialah setiap harinya mengalami hal-hal yang berbeda, tidak monoton dan challengenya selalu baru. Bisa datang ke event-event
yang menarik misalnya konser asing dan bertemu artis favorit seperti
yang pernah dialami Sawi. Tapi tentunya setiap pekerjaan punya tantangan
tersendiri.
“Challengenya sebagai produser
itu kita dituntut untuk kreatif. Cara untuk jadi kreatif ada dua menurut
saya. Yang ribet dan yang mudah. Cara yang ribet butuh waktu dan uang
kayak kursus, kuliah, seminar. Sedangkan yang mudah itu bagi saya, kita
cukup power nap selama 30 detik – 15 menit untuk istirahatkan
pikiran sejenak, setelah bangun, mulailah cari dari hal-hal di sekitar
kita. Setelah ketemu satu hal, tuliskan sebanyak-banyaknya apa saja yang
dipikirkan mengenai hal itu. Lalu pilihlah yang bagus-bagus dan
terakhir disusun untuk jadi satu ide.”
Sesi terakhir menjadi giliran untuk
Didot, Program Director Trax FM untuk menjelaskan struktur organisasi
dari Trax FM, posisi-posisi apa saja yang membuat radio tersebut hidup.
Dan demikian berakhirlah workshop asyik hasil kerja sama UMN
Radio dan Trax FM ini. Semoga apa yang sudah dibagikan dapat bermanfaat
bagi peserta kelak terutama yang ingin mejadi radio announcer. (*)
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Teknik Informatika|Sistem Informasi|Sistem Komputer|Akuntansi|Manajemen|Ilmu Komunikasi|Desain Komunikasi Visual, di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id
Monday, October 21, 2013
Posted by UMN
Wicked Thursday Night
October 18, 2013 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service
Dalam rangka perayaan Halloween
yang akan jatuh di akhir bulan ini, UMN Night Oktober mengangkat tema
‘Wicked Night’ pada Kamis (17/10).
Setelah digelar pada 19 September
lalu, UMN Night kembali hadir di Broadway SMS kemarin malam dengan
suasana yang berbeda. Dekorasi panggung dibuat ala Halloween dengan
hiasan labu dan permen-permen. Dari performer pun ada yang menggunakan kostum unik.
Acara dibuka dengan street dance oleh duo Ivan & Jason. Mereka menunjukkan kemampuan melakukan gerakan keren yang telah diasah dalam UKM street dance di panggung UMN Night. Setelah itu dilanjutkan Marvellous dance yang terdiri dari dua gadis angkatan 2013 Elvi & Vicky dengan modern dancenya, diiringi oleh DJ Imanes. Sebelum band-band unjuk gigi, MC mengadakan games. Mereka mengajak dua orang penonton untuk meniru dance ala Elvi & Vicky. Ivan yang sebelumnya perform street dance menjadi salah satu yang ditantang untuk MD.
Tibalah giliran para band mengguncang
Broadway. Bukan hanya musik pop saja tapi rock juga membahana dari
penampilan Ala Kadar dan The Chronicles. Masing-masing menunjukkan warna
yang berbeda. Dan ternyata perfomer bukan hanya dari dancer atau band saja tapi juga ada cosplay
dari UKM J-Café. Ini merupakan UKM yang beranggotakan penggemar anime
Jepang. Kostum yang mereka gunakan seperti seragam sekolah karakter
anime. Disediakan juga photobooth untuk pengunjung yang mau berfoto
bersama J-Café.
Sitback, band rock yang sudah meluncurkan album ini, menjadi last performer
di Wicked Night. Mereka pun mengajak dua vokalis dari band yang berbeda
untuk mengkolaborasikan aliran pop dan rock sehingga menghasilkan
penutupan yang meriah.
Bagi yang belum sempat menonton, tak
perlu khawatir, UMN Night akan hadir kembali bulan depan dengan
bertemakan ‘Tribute to Westlife’. Kamu penggemar Westlife? Jangan
lewatkan ya! (*)
Kuliah di Jakarta untuk jurusan program studi Teknik Informatika|Sistem Informasi|Sistem Komputer|Akuntansi|Manajemen|Ilmu Komunikasi|Desain Komunikasi Visual, di Universitas Multimedia Nusantara. www.umn.ac.id
Posted by UMN
Saatnya Warga Bicara
October 13, 2013 : by Debora Thea / Universitas Multimedia Nusantara News Service
Dalam acara bicaRA buKu (RAK) UMN
perdana, Jum’at (11/9), Pepih Nugraha dalam bukunya yang berjudul
Citizen Journalism (CJ) memaparkan bahwa CJ telah menjadi sebuah
transmisi, warga bukan hanya sebagai penerima saja tapi juga sebagai
pewarta.
Sebagai wartawan maupun citizen journalist (CJ), Kang Pepih menjelaskan bahwa keduanya harus memiliki nose for news, yakni curiosity (keingintahuan), skeptic (keragu-raguan), observation (mengawasi), change (mengamati perubahan perilaku), dan compare
(mengamati perbandingan). Berangkat dari sana, CJ bisa menuliskan
berita atau opini yang dituangkan dalam postingan di blog ataupun media
seperti Kompasiana. Dan bukan hanya itu saja, tapi juga mencakup fiksi,
tips dan tutorial. Tulisan tentunya juga memperhatikan news value.
Meski demikian, ada hal yang perlu digarisbawahi bahwa CJ tidak bisa disebut sebagai wartawan. “Citizen Journalism lebih pas disebut pewarta warga karena
kalau kita menjadi seorang wartawan, pertama kita harus punya pekerjaan
itu. Lalu kita perlu melakukan cover both side terhadap suatu isu dan
juga verifikasi. Pewarta warga tidak melakukan itu. Yang terakhir,
wartawan akan terpaku pada kode etik wartawan sementara CJ hanya
berpegang pada netiket atau sopan santun berinternet,” ungkap wartawan
Kompas sekaligus manajer Kompasiana itu. Beliau pun menambahkan di
samping perbedaan tersebut, tetap ada tujuh dosa besar yang harus
dihindari oleh wartawan maupun CJ, dan semuanya dijelaskan dalam buku Citizen Journalism karangannya.
Dalam acara tersebut, kang Pepih turut sharing mengenai asyiknya menjadi CJ dengan blog pribadi. Ia mulai menggeluti social media
(blog) tahun 2005 dengan sebuah blog dengan nama ‘Beranda T4 Berbagi’.
Salah satu postingannya ialah ia mempertanyakan dan menganalisa mengapa
orang Indonesia kalau ada acara bangku terdepan selalu kosong. Apakah
karena orang Indonesia sangat menghormati senior atau merasa rendah diri
untuk duduk di depan. “Kalau saya tulis berita ecek-ecek seperti itu di
harian Kompas, tidak mungkin. Apa urusannya, itu opini bukan peristiwa,
bukan berita. Tapi kalau saya nulis di blog asik-asik aja, enggak ada
yang larang dan bahkan ada yang berkomentar, bertestimoni. Lama-lama
merasa asik nulis di blog,” katanya.
Kegiatan ngeblog Kang Pepih tersebut
akhirnya menjadi bahan kritikan di kalangan wartawan Kompas, tapi itu
malah membuatnya semakin teguh. Tahun 2008, beliau mendapat kesempatan
untuk membentuk Kompasiana dengan mengedepankan connecting & sharing. “Saya nulis tiba-tiba sudah ada yang komen. Itulah arti dari connecting, bisa terhubung. Dan bisa sharing meskipun beritanya ecek-ecek. Kalau di Kompas cetak hanya bisa sharing tapi saya tidak tau gimana reaksi pembaca terhadap tulisan saya.”
Hingga tahun yang kelima, Kompasiana
yang terbuka untuk publik dan gratis, bisa menghasilkan 1000 tulisan
setiap harinya. “Inilah gairah warga yang tak bisa ditahan,” tuturnya.
(*)
Sunday, October 13, 2013
Posted by UMN